Logo-fokus-ginding

Portal berita digital ini berada di bawah naungan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jawa Barat, dengan operasional teknis harian dilaksanakan oleh Koperasi PWI Jabar.

Berdiri sejak 1 November 2012, FOKUSJabar.com adalah kanal informasi di Jawa Barat yang Kritis, Positif dan Etis, seiring kehadiran sekitar 1.400 anggota PWI Jabar yang umumnya siap mengabarkan informasi terdepan dari seluruh pelosok.

FOKUSJabar.com hadir bukan sekedar dengan kuantitas personel tadi, namun juga bertekad memberikan informasi terkini seputar Jabar yang penting, relevan dan bermanfaat.

Juga,akan menyajikan pelbagai informasi ringan yang beda, kreatif, dan mencerahkan guna menyeimbangkan kebutuhan informasi netizen (internet citizen).

Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, Jabar juga diproyeksikan akan memiliki netizen paling banyak.

Karena itulah, jejaring informasi yang terluas, terbesar namun bertanggungjawab menjadi pijakan FOKUSJabar.com. Hari ini, esok dan selamanya.

Tah Ieu! Sunda Menolak Pembunuhan Bahasa Daerah di Kurikulum 2013

Oleh: Solihin

BANDUNG,FOKUSJABAR.COM: Ratusan massa pecinta budaya dan bahasa Sunda, berunjukrasa di halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro Bandung, Senin (31/12). Pagi ini.

Massa pecinta budaya dan bahasa Sunda saat berunjukrasa di halaman Gedung Sate (Foto: Solihin)

Massa pecinta budaya dan bahasa Sunda saat berunjukrasa di halaman Gedung Sate (Foto: Solihin)

Dalam aksinya mereka menolak kurikulum 2013 yang dinilai mempersempit pembelajaran bahasa daerah. Dimana satu-satunya peluang pengembangan bahasa daerah yakni pada Muatan Lokal di sekolah, diganti dengan seni budaya. Artinya bahasa daerah akan tergeser dalam kurikulum yang masih dalam tahap uji publik tersebut.

Koordinator aksi, Hadi AKS mengatakan bahwa aksi tersebut sebagai reaksi dari urang Sunda atas penolakan pembunuhan bahasa daerah di kurikulum 2013.

“Kalau forum dialog lainya tetap kami tempuh dan sudah berjalan,” kata Hadi disela aksinya.

Kendati nanti prosesnya diserahkan ke daerah masing-masing, namun tanpa rambu-rambu yang jelas dari pusat, pihaknya meragukan jika orang-orang daerah mengindahkannya. Hal itu dibuktikan dengan kenyataan, dimana pelajaran di daerah jauh dari harapan, terlebih di 2013 peluang tidak terbuka lagi.

“Akan rugi jika sebuah bahasa itu mati. Bahasa itu menjadi benteng dari sebuah etnis. Jadi jika dipersempit jalurnya, maka akan cepat mati,” tegasnya.

Aksi Sunda menolak pembunuhan bahasa daerah dalm kurikulum 2013 itu, di awali aksi teaterikal dari Saung Sastra Lembang. Dalam aksinya, saung sastra lembang menggebu menyuarakan dan mengajak pengunjung yang hadir di halaman Gedung Sate tetap menjaga bahasa Sunda.

“Urang ulah beakeun sora,” begitu seruan peserta teater.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>