Senin, 22 Desember 2014

Cetarrr! Kue Balok Setengah Matang Ala Kang Didin di Pajajaran, Bandung (Bagian I)

Oleh: Muhammad Sufyan

BANDUNG, FOKUSJABAR.COM: Entah ‘ulah’ siapa yang menghadirkan kue balok –kadang disebut juga kue jibeuhh/hiji oge sebeuh– di Tatar Sunda ini, namun sejarah kali ini tak begitu penting.

Sebagian menyebutnya berasal dari Garut, tapi banyak juga yang bersikukuh asli dari Bandung. Namun otentikasi historis ini tak lagi relevan jika menyantap kue balok setengah mateng Kang Didin asal Pajajaran, Kota Bandung.

Sebelah kiri, kue balok setengah matang rasa keju dan kue balok matang coklat ditemani wedang ronde. (Foto: Muhammad Sufyan)

Sebelah kiri, kue balok setengah matang rasa keju dan kue balok matang coklat ditemani wedang jahe. (Foto: Muhammad Sufyan)

 

Berlokasi depan sebuah bengkel ban mobil dan persis depan Bimbingan Belajar SSC (atau sekira 2 km dari lampu Merah menuju Bandara Hussein Sastranegara), kue balok yang satu ini layak disebut sebagai jawara-nya di Kota Kembang.

Betapa tidak. Dengan ukuran sekitar 5cm x 2cm, balok ini memang lebih mungil dari biasanya. Namun, panggangan yang pas dipadu rasa yang tak begitu giung, malah bisa membuat orang doyan menyantap kue yang disebut-sebut ‘satu saja sudah kenyang’ ini.

Tak bikin eneg, tidak benar-benar membuat kenyang, karena kelezatannya cenderung bikin orang ingin makan lagi. Memang paling pas datang ke sini dengan perut sepenuhnya kosong, jadi si balok terigu satu ini jadi pengganti nasi. Toh sama-sama karbohidrat.

Kios yang sudah berdiri sejak tahun 1967 ini memang memperlihatkan jam terbang mereka dalam membuat kue balok. Takaran api yang pas menjadi kunci mengapa rekahan terigu kue balok satu ini demikian menggiurkan liur.

Rekahan tersebut kemudian dibalur  cairan kombinasi keju, susu cair manis, dan (mungkin) sedikit adonan kue di atasnya. Walhasil, kue balok setengah matang di sini, menurut penulis, lebih direkomendasikan daripada yang sudah matang betul.

Begitu disantap, sensasi cairan memenuhi mulut dicampur “daging” kue-nya itu sendiri. Ini membuat tenggorokan tak langsung penuh dan menghantarkan efek kenyang ke otak, seperti ketika kita makan kue balok matang pada umumnya.

Si setengah matang ini juga terasa jadi lebih lembek disantap. Ya, semacam kalau kita makan nasi ditemani semangkuk kuah sup. Inilah yang membuat geraham kita tak perlu ekstra kerja selayaknya kita makan kue balok konvensional.

Parade kua balok Kang Didin di Jalan Abdurahman Saleh/Pajajaran Kota Bandung. (Foto: Muhammad Sufyan)

Parade kue balok Kang Didin di Jalan Abdurahman Saleh/Pajajaran Kota Bandung. (Foto: Muhammad Sufyan)

 

Memang semua akan bergantung selera. Namun pengalaman menyantap kue balok di berbagai kota di Jabar membuat pengalaman bersantap yang setengah matang di Kang Didin terasa lebih cetarr daripada  yang biasa.

Terlebih, ini juga menariknya, yang setengah matang ini dibanderol hanya Rp1.500 oleh Tomy Maulana (anak Kang Didin yang jadi penerus penjualan) sementara yang matang Rp2.500 per buah.

Variasi topping sendiri sudah mereka pikirkan. Jadi, baik versi setengah maupun matang, ada tawaran selain kue balok polos, juga ada rasa keju, coklat, kacang, kismis, hingga selai strawberry. Ajibb pisan! 

Tentu saja, kios yang buka dari sore hingga rata-rata jam 02.00 ini, tak lupa menyertakan sejumlah minuman pelengkap yang pas mengusir malam berangin sepi nan galau di malam hari. Mulai dari kopi, teh manis, wedang jahe, teh telur, dst.

 

Jika kawan hendak malam mingguan yang syahdu tapi tak menguras bujet, bolehlah lokasi wisata kuliner ini dilirik. Tersedia meja kursi  sekedarnya di pinggir jalan yang cocok untuk mengobrol ngalor ngidul. Tentu, sambil santap kue balok setengah matang… (**)

 

 

 

banner 468x60

Berlangganan

Untuk mengetahui informasi terbaru dari FOKUSJabar.com silahkan masukan email Anda disini

No Responses

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan