Rabu, 17 Desember 2014

Rakyat Oh Rakyat

Oleh: Solihin

 

timMinggu 24 Februari akan menjadi momen menentukan bagi Jawa Barat lima tahun ke depan. Begitupun dengan nasib lima pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar, seperti Dikdik Mulyana Arief  Mansyur-Cecep NS Toyib, Irianto MS Syafiuddin (Yance)-Tatang Farhanul Hakim, Dede Yusuf Macan Effendi-Lex Laksamana, Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar dan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki akan ditentukan sekitar 32 juta lebih calon pemilih Jabar.

Pasangan mana yang terpilih nanti, itu adalah pasangan terbaik pilihan rakyat Jabar, atau bahkan terpaksa dipilih karena sama sekali tidak mengenal kelimanya. Yang jelas, seluruh pasangan calon harus puas dengan apa yang menjadi pilihan rakyat Jabar, terlebih seluruh pasangan sudah berupaya memberikan yang terbaik.

Lima pasangan calon bahkan harus bersikap ksatria, ketika 32 juta lebih pemilih Jabar tidak tertarik dengan visi-misi dan program kerja yang ditawarkan semasa kampanye 7 hingga 20 Februari lalu.

Apapun itu, dalam setiap ‘pertarungan’ harus siap terpilih dan siap untuk tidak terpilih.

Pertarungan belum selesai, namun sejumlah lembaga yang mengaku ahli survei bermunculan dan memprediksi raihan seluruh calon di Jabar. Baik secara popularitas, elektabilitas atau apalah namanya.

Dari mulai lembaga survei yang memprediksi Pilgub berlangsung dua putaran, satu putaran bahkan langsung menyebut siapa pemenangnya seolah asik dengan dunianya sendiri meneliti dan menanyakan pendapat masyarakat tentang calon pemimpinnya.

Tapi apakah rakyat mengerti dengan apa yang mereka tanyakan, dan apa yang didapat rakyat dari pertanyaan yang dilontarkan? Entahlah. Yang pasti hanya lembaga itu yang mendapat keuntungan, publikasi media massa serta pengakuan dari khalayak atas kinerjanya. Lalu rakyat yang menjadi objeknya dapat apa?.

Jangan bilang itu tak adil, karena begitulah seharusnya. Yang lebih pintar akan menguasai wilayah ‘jajahan’ sebaliknya yang tak bisa memanfaatkan momen, akan selalu ‘dikadalin’.

Yang pasti Pilgub 2013 belum berakhir. Masih ada proses lainnya yang menuntut rakyat  harus mengikuti nya. Namun sebetulnya rakyat tidak mengerti bahkan mereka mungkin tidak mengenal siapa yang akan dipilihnya, apalagi mereka hanya muncul menjelang Pilgub saja.

Bahkan rakyat hanya tahu mereka datang berorasi di panggung dan tak tahu apa yang calon itu orasikan serta untuk siapa orasi itu ditujukan. Apalagi para calon hanya menebar janji yang belum jelas bisa di realisasikan atau tidak, benar atau tidak, dan masih banyak lagi pertanyaan terkait janji-janji politik itu.

Sudahlah, nasi sudah jadi bubur dan mau tidak mau harus memilih mereka calon pemimpin Jabar, yang ditetapkan KPU Jabar. Yang kenal mereka mungkin hanya tim sukses, relawan, partai, keluarga calon, KPU Jabar serta wartawan yang tak jarang menjadi bulan-bulanan mereka yang tidak tahu aturan dan seenaknya memperlakukan wartawan, yang justru membantunya memperkenalkan kepada calon pemilihnya. Aneh! (**)

banner 468x60

Berlangganan

Untuk mengetahui informasi terbaru dari FOKUSJabar.com silahkan masukan email Anda disini

No Responses

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan